Rabu, 10 Juni 2009

Piala Konfederasi

Afrika Selatan benar benar mendapatkan kesempatan yang bisa dibilang dahsyat. Setelah mendapatkan ijin untuk menggelar pesta olahraga sepakbola terakbar sedunia - Piala Dunia - Afsel (Afrika Selatan) juga mendapat kesempatan untuk merebut Piala Konfederasi. Peluang besar ini sangat mungkin karena negara yang mendapatkan kehormatan untuk bisa menyelenggarakan piala dunia akan mendapatkan dukungan penuh dari para suporter setia, belum lagi dari segi keluarganya yang sangat bangga jika anggota keluarganya mendapatkan kesempatan untuk mengharumkan negaranya lewat panji sepak bola di dunia internasional.

Afsel Sendiri sangat optimis dengan hal ini. Mereka sadar akan berhadapan dengan negara-negara yang sangat hebat dan sudah menjadi langganan juara dalam ajang internasional. Spanyol juara Eropa, Italia Juara Piala Dunia dan Brasil yang sudah tidak diragukan lagi akan kehebatan sepak bolanya. Negara negara tersebut akan menjadi lawan Afsel untuk merebut piala konfederasi, bersama Mesir, Afsel akan mencoba untuk mencatat rekor. Maklum selama turnamen yang dimaksudkan untuk pemanasan sebelum pertandingan final piala dunia ini digelar, belum pernah ada negara yang berasal dari benua hitam ini mampu merebut Piala Konfederasi. Hal ini juga akan menjadi pemacu semangat serta misi tersendiri dalam diri para pemain Afsel.

Minggu, 07 Juni 2009

The Real Winner

Ajang pembuktian klub sepak bola terkuat di ranah Eropa terjadi Kamis dinihari waktu Indonesia. Kejuaraan antar klub Eropa ini menjadi salah satu persaingan yang paling seru serta paling tinggi kelasnya jika dibandingkan dengan kompetisi antar klub Eropa lainnya (UEFA Cup) bahkan banyak para pemain dan pelatih yang lebih berkonsentrasi di tournament ini dari pada Liga Domestik di Negaranya masing-masing.

Manchester United (MU) – Inggris - Juara Premier League menghadapi Barcelona – Spanyol – Juara La Liga Spanyol. Sebelumnya pertandingan final ini telah diprediksi oleh banyak pengamat dan pecinta sepak bola. Mereka memprediksikan gaya permainan dari kedua klub ini yang hampir sama akan menyuguhkan pertandingan yang indah, menarik, terbuka & saling serang.

Selain itu juga final Liga Champion ini menjadi ajang pembuktian bintang klub mereka masing-masing untuk merebut gelar pemain terbaik dan juga merebut gelar top skor. Christiano Ronaldo mega bintang asal Portugal dari Manchester United serta Lionel Messi bintang muda Barcelona asal Argentina.

MU bertekad untuk mempertahankan gelar juara liga Champion musim lalu serta membukukan rekor klub yang mampu mempertahankan gelar juara liga Champion 2 kali berturut-turut. Sementara Barcelona dengan pelatih baru mereka Pep Guardiola, pelatih muda yang merupakan legenda Barcelona ingin melengkapi keinginannya merebut Treble Winner, yang sebelumnya telah menjuarai Piala Raja Spanyol dan liga domestik mereka La Liga Spanyol. Ini merupakan kesuksesan pertama pelatih muda Barcelona yang boleh dibilang masih minim pengalaman di pentas kejuaraan besar seperti Liga Champion. Setelah era Deco, Ronaldinho berakhir Guardiola membangun kembali Barcelona dengan motor serangan Andres Iniesta serta pemain terbaik Euro 2008 Xavi Hernandes.

Pada babak pertama sudah terlihat ketatnya pertandingan antara kedua tim ini. Barcelona yang minus Dani Alves, Eric Abidal (Akumulasi Kartu) serta Rafael Marquez (Cedera) mampu mendikte permainan lini tengah MU yang di galang oleh M. Carrick dan tanpa Fletcher di tengah karena hukuman kartu merah pada pertandingan sebelumnya melawan Arsenal di semifinal. Peran Fletcher digantikan gelandang muda MU Andersson.

Permainan cantik lewat umpan-umpan pendek dari kaki ke kaki menjadi senjata utama untuk mematikan pergerakan Ronaldo CS. Lini tengah Barcelona yang di motori oleh Gelandang terbaik Euro 2008 Xavi Hernandes dan Andres Iniesta menjadikan permainan Barcelona menjadi Aktif dan Efektif. Umpan-umpan cantik mereka sangat memanjakan para pemain depan Barcelona. Terbukti Trisula Barcelona (Henry, Messi, Eto’o) memberikan kejutan sebuah gol dari kerjasama cantik saat pertandingan baru berjalan 10 menit. Gol cepat ini membuat mental para pemain MU sedikit turun. Terlihat dari Ball Possession Barcelona sedikit mengungguli MU. MU hanya mengandalkan serangan balik dan kecepatan Ronaldo serta Wayne Rooney. Taktik semacam ini sangat mudah dipatahkan para pemain belakang Barcelona (Puyol, Pique & Yaya Toure). Yang menarik dari taktik Guardiola adalah Yaya Toure ditarik agak kebelakang untuk mem-backing para pemain belakang Barca dari serangan MU lewat Ronaldo, Giggs dan Rooney.

Pertandingan menjadi sedikit membosankan karena permain hati-hati yang diperagakan oleh pemain MU. Justru Lionel Messi yang diperkirakan akan berhadapan dengan Evra di instruksikan untuk lebih sering menusuk ke tengah ke jantung pertahanan MU. Sementara Eto’o beralih posisi menjadi lebih bermain ke kanan seolah menggantikan peran Messi. Strategi ini terbukti ampuh dengan hasil Barcelona lebih memiliki banyak peluang dari kerjasama 3 pemain depan mereka.

Dibabak kedua Andersson yang kinerjanya kurang maksimal untuk menggantikan Fletcher ditarik keluar Oleh Ferguson dan di gantikan oleh Carlos Teves. Pergantian ini mengindikasikan bahwa para pemain MU ingin lebih bermain Offensive demi mengejar ketertinggalan. Hingga menit ke 65 MU masih belum mampu menjebol pertahanan Barcelona serta minimnya peluang membuat para pemain MU frustasi. Ini ditunjukkan oleh pelanggaran Ronaldo yang dengan sengaja menyikut perut Charles Puyol yang mengakibatkan Mega Bintang MU ini di ganjar kartu kuning. Fergie memasukkan Berbatov serta Paul Scholes untuk menambah daya gedor serangan MU. Mereka menggantikan Ryan Giggs dan Park Ji Sung. Saat para pemain MU bermain Offensive para pemain Barcelona berusaha memanfaatkan celah yang sedikit terbuka dipertahanan MU. Sekali lagi Xavi Hernandes membuktikan bahwa dia layak diberikan gelar gelandang terbaik Euro 2008 saat dia memberikan umpan cantik ke kotak penalty kepada Messi yang sebenarnya posisinya kurang sempurna untuk mencetak Gol. Gol kedua terjadi menit ke 70 dengan sundulan kepala Messi yang jarang mencetak gol dengan sundulan kepala.

Gol kedua ini memupuskan harapan MU untuk mempertahankan gelar juara liga Champion serta membawa trofi bergengsi ini ke Spanyol. Hingga babak kedua berakhir kedudukan tidak berubah 2-0 untuk keunggulan Barcelona. Fergie kali ini harus mengakui kehebatan strategi pelatih muda Barcelona, Guardiola. Kemenangan ini membuktikan juga bahwa sepak bola Spanyol masih sedikit lebih unggul dari Negara Eropa lainnya. Dengan kepungan 3 Tim asal Inggris Barcelona mampu muncul sebagai klub terbaik di Eropa. Sebelumnya tentu kita masih ingat saat Spanyol menjadi Negara yang memiliki sepak bola terbaik dengan menjuarai Euro 2008 tahun lalu.